Feeds:
Posts
Comments

golden trip

malam sebelumnya, aku berusaha mengingatkan mesin pengingat waktu di hape untuk siap membangunkan sang majikan pukul 04.30 setelah sebelumnya mendapat informasi bahwa jadwal kereta ekonomi adalah 5.30. jadwal ini cocok dengan kebiasaan yang selalu aku jalani, berusaha tiba di tempat kerja sepagi mungkin, dengan kondisi badan masih segar. dari jadwal keberangkatan 5.30 dari stasiun bojong gede, diperkirakan tiba di stasiun gondangdia 6.30. tetap masih pagi untuk ukuran orang kantoran seperti aku.

malam dihabiskan untuk browsing, mengedit blog, memburu berita malam terkini, hingga mulai mengantuk pukul 23. merasa belum yakin dengan kredibilitas alaram hape untuk membangunkan, aku tengok sekali lagi untuk meyakinkan, diletakkan dengan speaker menghadap tempat tidur dengan harapan dapat mendengar suara alarm dengan jelas.

seakan-akan karena semangat membara untuk mencoba pengalaman baru, aku bangun pukul 4.15. merasa aneh karena alarm baru akan bekerja pukul 4.30. belum beranjak dari tempat tidur, tetap menggenggam alarm sambil sesekali melihat ke screen-nya, menunggu sampai dia benar-benar berbunyi. ah, ternyata alarm bisa juga lambat untuk melaksanakan tugas – dilihat dari sisi majikan yang aneh. segera aku stop begitu alarm berbunyi tepat pukul 4.30. segera kurapikan tempat tidur, laptop yang masih tergeletak, kabel-kabel yang masih berserakan, baju kotor, sandal yang tiba-tiba hanya muncul tanpa pasangan. segera bersiap-siap untuk mandi – prosedur standar seorang pekerja. mungkin lagu saat aku kecil perlu direvisi : “bangun tidur ku terus mandi (mestinya tidak langsung mandi), tidak lupa menggosok gigi (biasanya baru bangun langsung gosok gigi), habis mandi kutolong ibu (haha tidak ada ibu di rumah), kubersihkan tempat tidurku (hah? ini mah sudah otomatis begitu bangun dari tempat tidur)”

meski sarapan tidak tersedia (bagaimana mau bikin sarapan, dapur belum ada isinya hehe), aku siap berangkat pukul 5.10, ikut-ikutan arus orang sibuk pagi-pagi mengejar jadwal kereta ekonomi 5.30. setelah kewajiban kunci mengunci pintu, mematikan lampu, segera kutinggalkan rumah berjalan menunggu angkutan mobil kecil nomor 117, jurusan stasiun bojong gede. ternyata pagi-pagi, angkutan-angkutan itu sudah saling berkejaran memburu penumpang yang mengejar jadwal kereta pagi. ah senangnya melihat suasana pagi yang penuh semangat. aku segera naik ke mobil angkutan umum dan turun beberapa meter sebelum stasiun bojong. sempat terkaget, karena orang-orang di sekitar stasiun sudah berlari-lari – tanda tidak mau ketinggalan kereta – menuju stasiun, segera ke loket tempat penjualan tiket, terus berlari menuju peron. aku berpikir tidak mungkin ada jadwal kereta ekonomi yang dimajukan dari jadwal semula – belum pernah terjadi sepanjang sejarah perkeretaapian indonesia hehe – peace indonesia! ternyata benar, itu jadwal kereta ekonomi jurusan tanah abang. lega rasanya, segera aku ke loket penjualan tiket, dan membayar 2.000 perak untuk selembar kertas berwarna merah lengkap dengan informasi daerah yang dituju : jakarta.

dengan berbekal koran tempo, sabar kutunggu kereta idamanku tiba. ah, tnyata tepat 5.30 sang ular besi tiba. aku segera naik, ikut berdesak-desakan dengan penumpang yang lain – suasana yang lazim dijumpai. sempat ada tawaran dari teman yang kebetulan ketemu untuk turun di stasiun depok lama berganti kereta dengan harapan dapat tempat duduk. lumayan, katanya pegel berdiri terus berdesak-desakan. tapi dengan yakin aku berusaha untuk tidak ikut, pengen merasakan dari awal, seperti apa suasana di kereta hingga sampai di tempat tujuan.

benar saja, hampir ada penumpang yang naik di setiap stasiun yang disinggahi. semakin banyak, arus desak mendesak juga semakin kuat. tidak berpegangan-pun mampu membuat badan ini tetap berdiri. semakin bergeser ke tengah membuat aku sedikit panik, jangan-jangan ntar malah kelewatan stasiun gondangdia. setelah aku dengar kereta berhenti di stasiun cikini, berarti stasiun berikutnya adalah : gondangdia hehe…

tiba di gondangdia tepat juga pukul 6.30. ternyata banyak juga penumpang kereta turun di gondangdia. tidak pernah punya pengalaman turun di gondangdia, aku berusaha mengikuti arus orang-orang berjalan ke luar stasiun sampai ke tempat perhentian kopaja 20.

naik kopaja, bayar ceng-go, berdiri pula di pintu – inget masa SMA dulu :D

pukul 6.45, aku masuki gerbang kantor.. siap beraktivitas lagi, kalo bisa mencari bersuap-suap nasi lagi..

thanks god, u give me a good experience..

Jika anda percaya, pikiran anda mencari jalan untuk melaksanakannya.

Jika anda percaya sesuatu itu tidak mungkin, pikiran anda akan bekerja bagi anda untuk membuktikan mengapa hal itu tidak mungkin. Akan tetapi jika anda percaya, benar-benar percaya, sesuatu dapat dilakukan, pikiran anda akan bekerja bagi anda dan membantu anda mencari jalan untuk melaksanakannya.

Percaya sesuatu dapat dilakukan melicinkan jalan untuk solusi yang kreatif. Percaya sesuatu tidak dapat dilakukan adalah cara berpikir yang destruktif.

Anda dapat menemukan cara untuk membeli rumah baru yang lebih besar jika anda percaya anda dapat melakukannya.

Kepercayaan melepaskan kekuatan kreatif. Ketidakpercayaan menjadi rem bagi berpikir kreatif. Percayalah, dan andapun akan memulai berpikir secara konstruktif.

Pikiran anda akan menciptakan jalan jika anda mengijinkannya.

Percaya bahwa sesuatu dapat dilakukan. Jika anda percaya sesuatu dapat dilakukan, pikiran anda akan mencari cara-cara untuk melakukannya. Percaya akan suatu solusi melicinkan jalan menuju solusi. Hapuskan kata “tidak mungkin”, “tidak akan berhasil”, “tidak dapat dikerjakan”, “tidak ada gunanya mencoba”, buang jauh-jauh pikiran dan kosa kata pembicaraan anda.

Jangan biarkan tradisi melumpuhkan pikiran anda. Bersikaplah menerima gagasan baru. Lakukan eksperimen. Coba pendekatan baru. Bersikaplah progresif dalam semua yang anda kerjakan.

Pensil

(Like the Flowing River, by Paulo Coelho)

Pensil, kita semua paham sekali, adalah sebuah alat tulis sederhana, sejak dulu hingga kini. Mari kita amati sejenak dari sudut yang berbeda;

Pertama;

Pensil dapat membuahkan hal-hal besar dan luar biasa, gambar maupun tulisan. Namun ternyata yang terpenting adalah tangan yang menggerakkannya. Begitu pula kehidupan. Siapapun, dimanapun, kapanpun, selalu ada tangan yang menggerakkan kehidupan. Kalangan agama menyebutnya Tuhan. TanganNYA-lah yg selalu menuntun hidup kita, apapun hasilnya, menyenangkan atau tidak.

Kedua;

Ketika tumpul, pensil perlu di-raut agar tulisan jadi lebih nyata. Begitu pula hidup, sesaat hadir penderitaan bak pensil ketika diraut. Setelah melewatinya, kita dibekali pengetahuan, makin menghargai kebahagiaan sekecil apapun itu. Kita pun lantas mampu berdiri lebih kuat. Penderitaan dan kebahagiaan memang selalu datang silih berganti sebagaimana siang dan malam, panas dan dingin, gelap dan terang.

Ketiga;

Ketika kesalahan terjadi, Pensil menyediakan penghapus untuk memperbaikinya. Begitu di perjalanan hidup kita, di keseharian kita. Kesalahan demi kesalahan terjadi, dan itu bukan sebuah malapetaka. Paling tidak ketika kita berbuat salah, artinya kita telah melakukan sesuatu. Dan takut berbuat salah adalah takut untuk berbuat. Dan hasilnya hanya membuahkan kebodohan intelektual

Keempat;

Bagi sebuah Pensil, hal terpenting bukanlah hiasan cat warna-warni keemasan di atasnya, namun graphite hitam di dalamnya. Bukan jeans Levis atau lainnya, sepatu kluaran itali apa bukan atau jam tangan Rolex atau bukan, tapi cara pandang & perilaku kita jauh lebih penting dari semua itu.

Kelima;

Ketika digunakan, pensil selalu meninggalkan bekas berupa tulisan dan atau gambar. Tinggalkanlah tulisan dan gambar yang bagus agar bermanfaat bagi sesama.

Ujung Cakrawala

Seberapa luas “dunia” Anda? Banyak orang hanya memiliki “dunia” seluas meja tulisnya, atau sepetak ruang kerjanya, atau mungkin sebesar gedung kantornya saja. Pandanglah keluar. Tebarkan pandangan Anda. Carilah ujung cakrawala. Nikmatilah cahaya matahari sore yang menemani perjalanan Anda pulang ke rumah. Dunia Anda jauh lebih luas dari yang Anda sangka. Ruang yang tersedia bukan hanya antara rumah dan tempat kerja Anda.

Anda dianugerahi lautan, pegunungan, hutan, mata air, dan berbagai keindahan alam lainnya. Sadarilah bahwa semua ini tidak kalah berharganya. Karena itu, jangan sia-siakan waktu Anda untuk tidak melebur dengan semua keindahan itu. Jangan ragu untuk meninggalkan pekerjaan Anda sejenak dan menikmati ciptaanNya. Hari esok masih ada. Kecuali Anda mau menyesal karena di saat pandangan Anda telah menjadi kabur, Anda baru tersadar akan kecantikan alam ini.

Pekerjaan Anda bisa menunggu. Namun umur Anda tidak akan kembali. Waktu adalah anak panah yang melesat kencang dan tidak bisa kembali. Anda tidak mungkin mampu menghentikan atau memperlambatnya. Selama waktu masih tersisa, tidak perlu ragu untuk menikmati keberadaan Anda di bumi ini. Ketika Anda menyadari betapa berharganya itu semua, Anda pun akan menyadari betapa berharganya Anda yang mungil ini di alam semesta yang maha luas. Kehadiran Anda adalah bagian dari alam ini. Hiduplah dengan penuh keseimbangan.